Pengamat: SMK Telkom Kurang Bijaksana!
BANJARMASINPOST.CO.ID- Memberhentikan M. Hilman Fariz, siswa kelas 12 dan Ketua OSIS SMK Telkom Sandhy Putra Banjarbaru, menjelang ujian nasional adalah keputusan yang tidak bijaksana.
“Saya kurang sependapat, karena kebijakan tersebut sangat tidak bijaksana. Masa tidak ada toleransi dari pihak sekolah, kan UN sudah tinggal menghitung hari saja lagi,” kata pengamat pendidikan sekaligus Pembantu Rektor IV Unlam Banjarmasin, Prof Dr Suparto Hadi MSi, Selasa (12/4/2011).
Seharusnya, kata Hadi, sekolah mengantarkan siswanya ke pintu gerbang kelulusannya, apapun kesalahan atau pelanggaran yang telah dilakukannya.
“Sekolah berpikir jauh ke depan. Memberhentikan itu sama artinya siswa tersebut tidak lulus. Dan itu juga akan menutup kesempatannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya,” ujarnya.
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru, Firdaus Hazairin, juga menyayangkan hal itu terjadi. “Saya lihat, Hilman itu anaknya cukup cerdas,” ujarnya.
Firdaus mengaku, Hilman pernah menemui dirinya di rumah. “Dia datang sendiri. Saat itu sudah malam, sekitar pukul 21.00 Wita,” ujarnya.
Firdaus mengatakan, dia tidak bisa menolong Hilman karena setiap sekolah memiliki otoritas dan tidak bisa mencampuri.
“Saya menyarankan kepada Hilman untuk mencari sekolah lain. Tetapi Hilman tetap ngotot untuk sekolah di SMK Telkom, seperti di Surakarta atau Jakarta. Karena inginnya di SMK Telkom, kami tidak bisa berbuat banyak. Seandainya, mau di SMK lain tentu kami bisa bantu,” ujarnya.
Untuk bisa mengikuti UN, kata Firdaus, sudah sangat terlambat, bahkan bisa dikatakan ketinggalan. “Untuk SMK, ujian teori produktif sudah dilaksanakan 15 Maret tadi,” ujarnya.
Walaupun Hilman bisa ikut UN, kata Firdaus, peluang lulus sangat kecil. “Penilaian kelulusan sekarang ini tidak hanya sebatas dari hasil UN tetapi juga dinilai dari ujian sekolah dan tingkat kehadiran yakni sebanyak 85 persen,” ujarnya. (pp/wid)
Pengamat: SMK Telkom Kurang Bijaksana!
BANJARMASINPOST.CO.ID- Memberhentikan M. Hilman Fariz, siswa kelas 12 dan Ketua OSIS SMK Telkom Sandhy Putra Banjarbaru, menjelang ujian nasional adalah keputusan yang tidak bijaksana.
“Saya kurang sependapat, karena kebijakan tersebut sangat tidak bijaksana. Masa tidak ada toleransi dari pihak sekolah, kan UN sudah tinggal menghitung hari saja lagi,” kata pengamat pendidikan sekaligus Pembantu Rektor IV Unlam Banjarmasin, Prof Dr Suparto Hadi MSi, Selasa (12/4/2011).
Seharusnya, kata Hadi, sekolah mengantarkan siswanya ke pintu gerbang kelulusannya, apapun kesalahan atau pelanggaran yang telah dilakukannya.
“Sekolah berpikir jauh ke depan. Memberhentikan itu sama artinya siswa tersebut tidak lulus. Dan itu juga akan menutup kesempatannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya,” ujarnya.
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru, Firdaus Hazairin, juga menyayangkan hal itu terjadi. “Saya lihat, Hilman itu anaknya cukup cerdas,” ujarnya.
Firdaus mengaku, Hilman pernah menemui dirinya di rumah. “Dia datang sendiri. Saat itu sudah malam, sekitar pukul 21.00 Wita,” ujarnya.
Firdaus mengatakan, dia tidak bisa menolong Hilman karena setiap sekolah memiliki otoritas dan tidak bisa mencampuri.
“Saya menyarankan kepada Hilman untuk mencari sekolah lain. Tetapi Hilman tetap ngotot untuk sekolah di SMK Telkom, seperti di Surakarta atau Jakarta. Karena inginnya di SMK Telkom, kami tidak bisa berbuat banyak. Seandainya, mau di SMK lain tentu kami bisa bantu,” ujarnya.
Untuk bisa mengikuti UN, kata Firdaus, sudah sangat terlambat, bahkan bisa dikatakan ketinggalan. “Untuk SMK, ujian teori produktif sudah dilaksanakan 15 Maret tadi,” ujarnya.
Walaupun Hilman bisa ikut UN, kata Firdaus, peluang lulus sangat kecil. “Penilaian kelulusan sekarang ini tidak hanya sebatas dari hasil UN tetapi juga dinilai dari ujian sekolah dan tingkat kehadiran yakni sebanyak 85 persen,” ujarnya. (pp/wid)
Posted 1 year ago