dia.
dimulai sekitar pertengahan bulan Juli atau Juni, entahlah aku tak begitu ingat.yang kuingat hanyalah acara MOS yang menggugupkan hati. ya, baru kali pertama aku bersekolah campuran antara lelaki dan perempuan. selama 3 tahun aku bersekolah semi pesantren di sekolahku dulu yang menyebabkan aku tak mengenali dunia cowok seperti apa. yang aku tahu, mereka itu sangat aneh.
dan hari itu pun datang. sengaja aku datang begitu pagi karena aku takut berdesakan dengan yang lain. Upacara Pembukaan pun berlangsung. aku asing. tak ada yang aku kenal dan sedangkan berpuluhpasang mata menatapku dari atas hingga bawah lalu kembali lagi ke atas. mungkin mereka bingung dengan seragam SMPku ini. aku ingin tidak peduli, tapi mataku tetap ingin memperhatikan mereka satu-satu. upacara pagi itu pun selesai dengan menyebutkan nama siswa-siswi untuk pembagian kelas.
aku mendapati kelas X.4, ya tidak begitu jelek. sengaja aku menempatkan diriku untuk duduk di meja paling depan. lalu masuklah cewek itu, cewek berambut panjang keriting tergerai hingga melewati bahunya, sangat panjang. untuk kesan pertama, dia cantik. dengan rambut itu, aku suka rambutnya. aku memang bukan orang yang supel, jadi selalu ku biarkan yang lain bicara untuk pertama kali dan aku hanya akan mengikuti arah pembicaraan. tapi, mungkin aku dan dia sama saja, sehingga tak satupun pembicaraan yang keluar dari mulut kami selain bertanya nama dan alamat rumah. dan saat itu aku tahu, namanya annisa. cantik, secantik wajahnya.
menjelang hari kedua MOS, nisa, begitu ku panggil, mengirimku sms untuk yang pertama kali setelah sempat bertukar nomor ponsel. lucu, aku terkekeh sendiri membaca pesannya. “ibu gue ga masak, lo ada ikan lebih ga dirumah? gue bagi dong,” kira-kira begitu isinya. memang kami semua diperintahkan untuk membawa lauk dan bla bla bla-nya itu untuk keperluan MOS.
esok harinya, aku bertemu dia tepat didepan gerbang sekolah. aku kasih apa yang diminta kemarin dengan tertawa, dan dia pun tertawa. itulah saat dimana aku dan dia tertawa bersama untuk pertama kali. dan karena saat itu pula, aku nyaman dengan orang asing.
aku dan nisa terilang cukup kompak. bercanda saat guru menerangkan, makan secara diam-diam dikelas saat pelajaran berlangsung, dan berbagai hal konyol lainnya. pernah suatu ketika aku ditarik keluar oleh teman sekelasku, linda dan banyak lagi. dia bertanya padaku kenapa aku mau duduk dengan nisa. well, cukup mengejutkan. ternyata yang tidak ku sadari selama ini, banyak yang tidak suka pada nisa karena aksesoris yang sering dia pakai ke sekolah. lalu apa salahnya? aku bingung pada mereka. memang stylenya tidak pada umumnya anak sekolahan. dia lebih terlihat seperti seorang mahasiswi, begitu dewasa untuk anak yang baru lulus SMP seperti yang lainnya. tapi apa salahnya? toh semua orang berhak atas apa yang mereka kenakan, kan? biarlah mereka berkata apa, yang ku bisa hanyalah tetap meyakinkan mereka bahwa penampilan anehnya tidak menunjukkan sifatnya, tapi tetap tak mau didengar.
memasuki Semester 2, ada perasaan takut. takut tidak sekelas dengan dia lagi, takut tidak bisa curhat lagi dengannya saat pelajaran berlangsung, takut aku merasa asing di kelasku yang baru nanti.
dan yang ku takuti pun terjadi, aku tidak sekelas dengannya. aku kelas XI IPA 1 dan dia XI IPA 4. kelas kami pun berjauhan, sangat jauh. mulai jarang mengirim pesan, mulai jarang berbagi cerita, dan mulai jarang bertegur sapa, karena kelasku tidak selantai dengannya. tetapi aku masih beruntung, tiap pulang sekolah, seperti perjanjian tersirat, kami saling menunggu satu sama lain. dan kami gunakan waktu luang itu untuk berbagi cerita. pernah kami terlalu asyik bercerita hingga awan mulai menunjukkan semburat oranye tanda matahari berpamitan. dan kami pulang dengan wajah tersenyum satu sama lain.
dan aku pun beranjak ke kelas tiga. kami sepakat untuk daftar ulang secara bersamaan agar mendapat kelas yang sama. ya, aku dan dia sangat kangen duduk bersama. dan pengumuman pembagian kelas pun dipampang di mading. ah! excited! senang! aku sangat senang. akhirnya aku sekelas lagi dengannya. XII IPA 3.
dan hari yang ditunggu pun tiba. sengaja aku datang begitu pagi hanya untuk mendapatkan tempat duduk yang sama seperti waktu aku kelas X dengannya, bangku yang berada deretan paling depan. dan kelas pun akhirnya penuh. banyak wajah baru, tapi aku tidak peduli, aku berada disampingnya lagi, aku bercanda lagi dengannya dalam jarak yang akan sedekat ini selama setahun ke depan.
awalnya mungkin asyik. aku berbagi cerita sewaktu pelajaran, melakukan hal konyol dengannya lagi, aku senang. tapi seiring dengan waktu, aku melihat sisinya yang berbeda, dia mulai mengurusi hal-hal yang aku bilang kecil, dia mulai mengoceh tentang hal yang simple menurutku. dan hari itu, aku kesal dengan perbuatannya. seketika itu aku muak berpandangan dengannya. dia sadar akan kesalku padanya. dan akhirnya dia menjauh. sesampainya dirumah, aku merutuk kesal pada diriku sendiri. kenapa bisa sampai sekonyol ini? kenapa bisa aku rusak suasana seperti ini? aah! otakku stuck. makin stuck karena mulai memasuki minggu ujian.
selama pekan ujian, aku benar-benar berjarak dengannya. semuanya seperti kembali ke masa dimana aku dan dia tak saling kenal dan tak saling bertegur sapa. aku sadar, ini semua salahku. seberapa kerasnya aku meminta maaf padanya, tetap tidak akan merubah apapun. dan ku biarkan langkahku ditemani angin kosong siluetnya. selama seminggu, kami tak berbicara satu sama lain, dan kami pun tak saling menunggu ketika waktu pulang tiba. terus seperti itu.
tapi keadaan beku itu pun mencair dengan sendirinya. aku menghela napas lega karena sikapnya mulai bisa menerimaku. and, everything back to normal again.
dan kini, aku hanya bisa mengingat itu semua. setelah Ujian Nasional berakhir, intensitas masuk sekolah pun berkurang dan membuatku semakin jarang menemuinya. apalagi setelah acara Pelepasan yang ku hadiri kemarin makin membuat aku berjarak lagi dengannya.
bagaimana ya kabarnya sekarang? ah, aku hampir lupa, bukankah aku pernah berucap padanya akan mengunjungi rumahnya setelah UN berakhir? tapi, kapan?
dia.
dimulai sekitar pertengahan bulan Juli atau Juni, entahlah aku tak begitu ingat.yang kuingat hanyalah acara MOS yang menggugupkan hati. ya, baru kali pertama aku bersekolah campuran antara lelaki dan perempuan. selama 3 tahun aku bersekolah semi pesantren di sekolahku dulu yang menyebabkan aku tak mengenali dunia cowok seperti apa. yang aku tahu, mereka itu sangat aneh.
dan hari itu pun datang. sengaja aku datang begitu pagi karena aku takut berdesakan dengan yang lain. Upacara Pembukaan pun berlangsung. aku asing. tak ada yang aku kenal dan sedangkan berpuluhpasang mata menatapku dari atas hingga bawah lalu kembali lagi ke atas. mungkin mereka bingung dengan seragam SMPku ini. aku ingin tidak peduli, tapi mataku tetap ingin memperhatikan mereka satu-satu. upacara pagi itu pun selesai dengan menyebutkan nama siswa-siswi untuk pembagian kelas.
aku mendapati kelas X.4, ya tidak begitu jelek. sengaja aku menempatkan diriku untuk duduk di meja paling depan. lalu masuklah cewek itu, cewek berambut panjang keriting tergerai hingga melewati bahunya, sangat panjang. untuk kesan pertama, dia cantik. dengan rambut itu, aku suka rambutnya. aku memang bukan orang yang supel, jadi selalu ku biarkan yang lain bicara untuk pertama kali dan aku hanya akan mengikuti arah pembicaraan. tapi, mungkin aku dan dia sama saja, sehingga tak satupun pembicaraan yang keluar dari mulut kami selain bertanya nama dan alamat rumah. dan saat itu aku tahu, namanya annisa. cantik, secantik wajahnya.
menjelang hari kedua MOS, nisa, begitu ku panggil, mengirimku sms untuk yang pertama kali setelah sempat bertukar nomor ponsel. lucu, aku terkekeh sendiri membaca pesannya. “ibu gue ga masak, lo ada ikan lebih ga dirumah? gue bagi dong,” kira-kira begitu isinya. memang kami semua diperintahkan untuk membawa lauk dan bla bla bla-nya itu untuk keperluan MOS.
esok harinya, aku bertemu dia tepat didepan gerbang sekolah. aku kasih apa yang diminta kemarin dengan tertawa, dan dia pun tertawa. itulah saat dimana aku dan dia tertawa bersama untuk pertama kali. dan karena saat itu pula, aku nyaman dengan orang asing.
aku dan nisa terilang cukup kompak. bercanda saat guru menerangkan, makan secara diam-diam dikelas saat pelajaran berlangsung, dan berbagai hal konyol lainnya. pernah suatu ketika aku ditarik keluar oleh teman sekelasku, linda dan banyak lagi. dia bertanya padaku kenapa aku mau duduk dengan nisa. well, cukup mengejutkan. ternyata yang tidak ku sadari selama ini, banyak yang tidak suka pada nisa karena aksesoris yang sering dia pakai ke sekolah. lalu apa salahnya? aku bingung pada mereka. memang stylenya tidak pada umumnya anak sekolahan. dia lebih terlihat seperti seorang mahasiswi, begitu dewasa untuk anak yang baru lulus SMP seperti yang lainnya. tapi apa salahnya? toh semua orang berhak atas apa yang mereka kenakan, kan? biarlah mereka berkata apa, yang ku bisa hanyalah tetap meyakinkan mereka bahwa penampilan anehnya tidak menunjukkan sifatnya, tapi tetap tak mau didengar.
memasuki Semester 2, ada perasaan takut. takut tidak sekelas dengan dia lagi, takut tidak bisa curhat lagi dengannya saat pelajaran berlangsung, takut aku merasa asing di kelasku yang baru nanti.
dan yang ku takuti pun terjadi, aku tidak sekelas dengannya. aku kelas XI IPA 1 dan dia XI IPA 4. kelas kami pun berjauhan, sangat jauh. mulai jarang mengirim pesan, mulai jarang berbagi cerita, dan mulai jarang bertegur sapa, karena kelasku tidak selantai dengannya. tetapi aku masih beruntung, tiap pulang sekolah, seperti perjanjian tersirat, kami saling menunggu satu sama lain. dan kami gunakan waktu luang itu untuk berbagi cerita. pernah kami terlalu asyik bercerita hingga awan mulai menunjukkan semburat oranye tanda matahari berpamitan. dan kami pulang dengan wajah tersenyum satu sama lain.
dan aku pun beranjak ke kelas tiga. kami sepakat untuk daftar ulang secara bersamaan agar mendapat kelas yang sama. ya, aku dan dia sangat kangen duduk bersama. dan pengumuman pembagian kelas pun dipampang di mading. ah! excited! senang! aku sangat senang. akhirnya aku sekelas lagi dengannya. XII IPA 3.
dan hari yang ditunggu pun tiba. sengaja aku datang begitu pagi hanya untuk mendapatkan tempat duduk yang sama seperti waktu aku kelas X dengannya, bangku yang berada deretan paling depan. dan kelas pun akhirnya penuh. banyak wajah baru, tapi aku tidak peduli, aku berada disampingnya lagi, aku bercanda lagi dengannya dalam jarak yang akan sedekat ini selama setahun ke depan.
awalnya mungkin asyik. aku berbagi cerita sewaktu pelajaran, melakukan hal konyol dengannya lagi, aku senang. tapi seiring dengan waktu, aku melihat sisinya yang berbeda, dia mulai mengurusi hal-hal yang aku bilang kecil, dia mulai mengoceh tentang hal yang simple menurutku. dan hari itu, aku kesal dengan perbuatannya. seketika itu aku muak berpandangan dengannya. dia sadar akan kesalku padanya. dan akhirnya dia menjauh. sesampainya dirumah, aku merutuk kesal pada diriku sendiri. kenapa bisa sampai sekonyol ini? kenapa bisa aku rusak suasana seperti ini? aah! otakku stuck. makin stuck karena mulai memasuki minggu ujian.
selama pekan ujian, aku benar-benar berjarak dengannya. semuanya seperti kembali ke masa dimana aku dan dia tak saling kenal dan tak saling bertegur sapa. aku sadar, ini semua salahku. seberapa kerasnya aku meminta maaf padanya, tetap tidak akan merubah apapun. dan ku biarkan langkahku ditemani angin kosong siluetnya. selama seminggu, kami tak berbicara satu sama lain, dan kami pun tak saling menunggu ketika waktu pulang tiba. terus seperti itu.
tapi keadaan beku itu pun mencair dengan sendirinya. aku menghela napas lega karena sikapnya mulai bisa menerimaku. and, everything back to normal again.
dan kini, aku hanya bisa mengingat itu semua. setelah Ujian Nasional berakhir, intensitas masuk sekolah pun berkurang dan membuatku semakin jarang menemuinya. apalagi setelah acara Pelepasan yang ku hadiri kemarin makin membuat aku berjarak lagi dengannya.
bagaimana ya kabarnya sekarang? ah, aku hampir lupa, bukankah aku pernah berucap padanya akan mengunjungi rumahnya setelah UN berakhir? tapi, kapan?
Posted 1 year ago