Hidup itu…

Hidup itu struggle. Yah, struggle dalam hal apapun. Kuat dalam jalanin cobaan yang ada. Kuat nerima semua yang terjadi. Dan mungkin kuat untuk ga down disaat yang kritis. Kata Pak Mario Teguh, kalo ga ada ujian yang menyusahkan, orang jujur ga aka nada dan orang dewasa juga ga aka nada. Yah, saya tau maksudnya apa. Pendewasaan diri adalah hasil dari ujian itu. Tapi, terkadang sempat terlintas didalam pikiran saya, kenapa begitu berat? Jika Allah sudah berfirman “La yukallifu llahu nafsan illa wus ‘aha”, kenapa masih terasa berat? Kenapa kita diberi pikiran sama Allah kalo kita emang ga sanggup jalanin ujian itu? Yah, saya tau, banyak orang hebat yang lahir karena ujian yang sangat sangat berat. Tapi, oh ya ampun, saya ga berharap sedikit pun untuk jadi orang hebat, ga sedikit pun untuk unjuk gigi, yang saya mau hanya ini selesai dengan mudah. Ya, mudah. Mungkin kata itu sekarang menjadi kata yang sakral di hidup saya. Kemudahan sepertinya sangat jauh untuk dijangkau, sangat sulit untuk direngkuh, dan sangat sangat beribu kali sangat sulit.

Ada orang hebat di hidup saya, bahkan banyak. Karena banyak itulah, saya ingin bercermin kepada mereka strategi apa yang mereka pakai dalam hal ini. Tapi karena banyak itu juga, saya jadi sering merasa minder. Under-estimated myself. Apa sih yang saya bisa? Apa yang saya punya? Just nothing. I’m just doing nothing. Useless. Kayaknya semua usaha saya untuk mengerti selama beberapa bulan terakhir ini ga berguna. Pengen banget rasanya teriak dan lari sekencang-kencangnya. Ya, lari dari beban hidup yang sekarang. Kedengaran konyol ya saya? Tapi, memang itu yang saya mau. Saya benci tahap pendewasaan yang seperti ini. Saya benci langkah yang ini. Sangat menyusahkan, bahkan bukan sekedar menysahkan diri saya sendiri, tapi juga menyusahkan orang sekitar saya. Mereka sibuk, tapi saya hanya berusaha sibuk. Jauh di dalam diri saya, saya ga dapet jiwa saya untuk melakukan ke”sibuk”kan itu.

Apa yang saya lakukan sekarang? Menangis. Terus menangis. Menangisi apa yang sudah saya perbuat. Menangisi kekecewaan saya akan diri saya, tempat itu, dan pilihan saya dulu. Saya tau, kata “jika saja” itu milik setan. Seakan kita tidak bersyukur atas setiap keputusan yang telah kita ambil. Tapi, memang kenyataannya begitu. Saya berusaha bersyukur, saya berusaha menikmati apa yang saya tanam dulu, dan saya juga berusaha menerima. Dan hasilnya, nonsense.

Jika saja, dulu saya berpikir untuk tidak menjadi seorang dokter.

Jika saja, dulu saya sadar benar akan kemampuan saya.

Jika saja, dulu saya sadar akan nilai saya.

Jika saja, dulu saya ga sekonyol itu untuk membuat cita-cita.

Yah, sekarang saya sedang ditampar oleh angin kenyataan yang terus menyiksa tubuh saya. Yang saya lakukan, mungkin, hanya berusaha menyesap angin dingin itu. Tanpa ada yang tau, di kelam malam, saya selalu ingin memuntahkan semua isi perut saya. Of course, semua isi hati saya.

Maaf, mental saya tidak sekuat orang-orang hebat itu. Yang langsung berdiri jika ditendang oleh kegagalan. Yang langsung semangat jika dicambuk oleh motivasi. Yang langsung berlari jika dimaki oleh kehinaan. Maaf, mental saya tidak seperti itu. Ini saya, yang lemah, yang hanya bisa menghela napas berat ketika semua itu mengeroyok tubuhku.

Hidup itu…

Hidup itu struggle. Yah, struggle dalam hal apapun. Kuat dalam jalanin cobaan yang ada. Kuat nerima semua yang terjadi. Dan mungkin kuat untuk ga down disaat yang kritis. Kata Pak Mario Teguh, kalo ga ada ujian yang menyusahkan, orang jujur ga aka nada dan orang dewasa juga ga aka nada. Yah, saya tau maksudnya apa. Pendewasaan diri adalah hasil dari ujian itu. Tapi, terkadang sempat terlintas didalam pikiran saya, kenapa begitu berat? Jika Allah sudah berfirman “La yukallifu llahu nafsan illa wus ‘aha”, kenapa masih terasa berat? Kenapa kita diberi pikiran sama Allah kalo kita emang ga sanggup jalanin ujian itu? Yah, saya tau, banyak orang hebat yang lahir karena ujian yang sangat sangat berat. Tapi, oh ya ampun, saya ga berharap sedikit pun untuk jadi orang hebat, ga sedikit pun untuk unjuk gigi, yang saya mau hanya ini selesai dengan mudah. Ya, mudah. Mungkin kata itu sekarang menjadi kata yang sakral di hidup saya. Kemudahan sepertinya sangat jauh untuk dijangkau, sangat sulit untuk direngkuh, dan sangat sangat beribu kali sangat sulit.

Ada orang hebat di hidup saya, bahkan banyak. Karena banyak itulah, saya ingin bercermin kepada mereka strategi apa yang mereka pakai dalam hal ini. Tapi karena banyak itu juga, saya jadi sering merasa minder. Under-estimated myself. Apa sih yang saya bisa? Apa yang saya punya? Just nothing. I’m just doing nothing. Useless. Kayaknya semua usaha saya untuk mengerti selama beberapa bulan terakhir ini ga berguna. Pengen banget rasanya teriak dan lari sekencang-kencangnya. Ya, lari dari beban hidup yang sekarang. Kedengaran konyol ya saya? Tapi, memang itu yang saya mau. Saya benci tahap pendewasaan yang seperti ini. Saya benci langkah yang ini. Sangat menyusahkan, bahkan bukan sekedar menysahkan diri saya sendiri, tapi juga menyusahkan orang sekitar saya. Mereka sibuk, tapi saya hanya berusaha sibuk. Jauh di dalam diri saya, saya ga dapet jiwa saya untuk melakukan ke”sibuk”kan itu.

Apa yang saya lakukan sekarang? Menangis. Terus menangis. Menangisi apa yang sudah saya perbuat. Menangisi kekecewaan saya akan diri saya, tempat itu, dan pilihan saya dulu. Saya tau, kata “jika saja” itu milik setan. Seakan kita tidak bersyukur atas setiap keputusan yang telah kita ambil. Tapi, memang kenyataannya begitu. Saya berusaha bersyukur, saya berusaha menikmati apa yang saya tanam dulu, dan saya juga berusaha menerima. Dan hasilnya, nonsense.

Jika saja, dulu saya berpikir untuk tidak menjadi seorang dokter.

Jika saja, dulu saya sadar benar akan kemampuan saya.

Jika saja, dulu saya sadar akan nilai saya.

Jika saja, dulu saya ga sekonyol itu untuk membuat cita-cita.

Yah, sekarang saya sedang ditampar oleh angin kenyataan yang terus menyiksa tubuh saya. Yang saya lakukan, mungkin, hanya berusaha menyesap angin dingin itu. Tanpa ada yang tau, di kelam malam, saya selalu ingin memuntahkan semua isi perut saya. Of course, semua isi hati saya.

Maaf, mental saya tidak sekuat orang-orang hebat itu. Yang langsung berdiri jika ditendang oleh kegagalan. Yang langsung semangat jika dicambuk oleh motivasi. Yang langsung berlari jika dimaki oleh kehinaan. Maaf, mental saya tidak seperti itu. Ini saya, yang lemah, yang hanya bisa menghela napas berat ketika semua itu mengeroyok tubuhku.

Posted 9 months ago Notes

Notes:

About:

Following: